Skip to main content

BORNEO MENGABDI DI MERATUS

 

Gambar 1. Pose bahagia setelah mendapatkan sinyal handphone

    Akhir-akhir ini sering banget lihat update-an orang-orang ikut pengabdian. Here we go, awal tahun 2020 alhamdulillah dapat rezeki bisa gabung teman-teman jadi relawan atau volunteer di Meratus beberapa dari mereka ada yang dari luar pulau, salut sama mereka yang bela-belain ke Kalimantan ada Yoga yang dari yogya, mas Reri dari Semarang, mas Jo dari Bekasi dan yang si kecil cabe rawit Muqe dari Makassar, yang lain aku, Sifa, Putri, Priska dari Banjarbaru juga Rio dan Efeb yang dari Banjarmasin. Panitia Kece dan kuat banget ada Ka Fiska, Ka Pute, Ka Muna, Irpan, Sidqi dan Panji dan yang nggak ke lapangan tapi tetap berjasa banget Ka Jaka dan Dayat. 

    Tepatnya 7-15 Januari kita berangkat dari Banjarbaru ke Desa Kamawakan, Loksado, Kalimantan Selatan. Untuk sampai, perlu waktu sekitar 4-5 jam dengan 25-30 menit naik ke atas pakai motor, bakal aku jelasin di paragraf selanjutnya. It was one of best memory of my life. Desa Kamawakan ini masih asri bin adem banget. Kondisi desa masih kurang terjangkau teknologi bahkan kalau kita lagi di Balai kita nggak ada sinyal, mesti dari naik sedikit ke puncak lagi baru bisa dapat sinyal. Di desa ini cuma juga ada satu sekolah namanya SD Kamawakan dan satu taman baca yang biasanya jadi tempat anak-anak ngumpul kalau sore.

                Gambar 2. Estetik ala-ala setelah engap-engap setelah sedikit mendaki

    By the way, sebelum ke desa kita ada pelatihan singkat semacam pengenalan dan belajar beberapa materi yang berkaitan dengan pengabdian. I met a bunch a great people, panitia-panitianya juga kece-kece dan ramah juga, peserta yang awalnya terlihat kalem tapi ternyata setelah waktu berjalan satu frekuensi juga ''kerecehannya'' everything was just so great at the time. Apalagi para neng geulis yang kukira bakal sulit adaptasi eh pas nyuci piring bareng eh langsung klik aja :). 

    Hari pertama kita berangkat ke tujuan sebagian naik mobil jet alias angkot dan panitia sebagian naik motor sekitar 4 jam kalau nggak salah. Sampai di Desa Lok Lahung karena tidak ada jalur mobil sampai ke Kamawakan karena buru-buru mobil pakai motor dengan tenang pun sudah Alhamdulillah :). As you guessed kita naik motor dari Desa Lok Lahung sampai ke atas jalannya bagi saya yang masih menjadi cita-cita jadi anak gunung lumayan curam apalagi bagian dimana naik motor di atas jembatan gantung dan dimana memandang ke sebelah dinding pegunungan and the other side ada jurang yang menanti kalau nggak hati-hati. Sekitar 25-30 menit kita harus menempuh jalan yang subhanallah tersebut. Tapi nggak apa-apa semua terbayarkan karena setelah sampai ''mama'' dan keluarga terutama adek-adek yang baik baik banget, menyambut dengan ramah juga salah satu mantan relawan Indonesia Mengajar Ka Syihab yang banyak membantu juga. Sampai di tempat, yang muslimnya langsung pada Shalat Ashar sebagian kenalan sama orang-orang di Balai. Karena aku kurang ingat urutan kegiatannya secara spesifik, aku kasih garis besarnya aja ya.                   

    Jadi, kita menghabiskan waktu dalam waktu 6 hari itu gantian di Balai dan rumah yang di Desa. FYI di Balai kalau malam buat listrik kita menggunakan generator so say bye to the listrik kalau udah selesai nonton tv malamnya. Posisi balai ini butuh waktu sekitar 25 menit kalau jalan kaki ke bawah karena posisinya itu di pegunungan, jadi posisi balai itu ada di atas sedangkan desa sedikit di bawah, jadi kalau mau naik itu berupa tanjakan nggak curam sih tapi lumayan bagi yang jarang olahraga akan sangat ngos-ngosan :D. 

Gambar 3. Persiapan Pembuatan Nasi Bakar 

    Selama di Balai kita sering diskusi sama ''mama'' dan yang yang lain juga, kita ada ngadakan diskusi sama masyarakat setempat sekaligus perkenalan. Ingat banget rasanya vibesnya berasa banget merasa welcome banget sama volunteer soalnya sebenarnya di Kamawakan udah pernah ada Indonesia Mengajar sebelumnya, kayak yang aku mention sebelumnya salah satunya Ka Syihab yang aku ingat. Ada juga beberapa kegiatan yang pernah dilakukan di Kamawakan sebelumnya. As you know 6 days are a short a period of time, nggak bisa berharap banyak but we did our best. Diskusi yang paling aku ingat waktu nanya sama tetua di Balai bahas mengenai politik dan sejarah disitu beliau ngejelasin betapa beliau pernah terlibat banyak di dunia politik but now everything has ended. I mean I got the point, yang aku ngerti beliau pengen menularkan semangat ke para volunteer supaya punya semangat seperti semangat beliau pada masanya. Kegiatan di malam hari yang lain kita lakukan selama di Balai yaitu masak nasi bakar tapi nasinya langsung dimasukkan di bambu I forgot its name masaknya bareng terus makannya juga bareng. nasi bakar ditambah nangka kuah santan dan tempe tahu, what a perfect match. Pastinya malam-malam di Balai juga dihabiskan dengan udara yang lumayan dingin bagi yang belum pernah ke gunung dan airnya di pagi hari seperti air es batu :) but it was great to experienced it and I definitely want to try it again, Insya Allah someday. 

Gambar 4. Gambaran kalau lagi makan bareng

    Kegiatan malam selama di Kamawakan kita juga mengadakan nonton film bareng sama warga setempat, nah untuk yang satu ini momen-momen dimana banyak ketawa karena mas reri dengan jokesnya bersama bonekanya ka Pute sebelum akhirnya menangis karena film keluarga cemara. Kegiatan seperti ini memang terlihat sederhana tapi buat pendekatan sama warga lumayan berasa. Ada satu momen kegiatan malam di desa juga yang gak bisa dilupakan tapi ini di akhir aja deh kayaknya. Malam lain kita persiapan buat program di siang hari, seperti alat peraga buat ngedongeng dari Priska, Takekuranya mas Jo, dan yang lain juga. 


Sepertinya, sampai sini dulu Part 1 nya. Sampai jumpa di part selanjutnya.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Curcol #1 Wanita dan Kerja

 "Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita. Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan".  Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah...

Seblak

You know when you get angry, and you just want to blurt things out—whether it's just regular anger or you're completely pissed off? I always wonder why, when I’m upset about something or when I’m around my loved ones, it feels like my brain just shuts off and I can’t think clearly. Do other people experience the same thing? Maybe it's a pattern—like when you're in danger or just too comfortable with someone. Or maybe it happens when you’re low on energy, and suddenly you crave Seblak or something really sweet. I’ve been curious about this and wanted to understand it better. So, the hypothalamus plays a big role here. When you get angry at something or someone, the hypothalamus is like the boss that indirectly tells the adrenal glands to produce cortisol. But even before the hypothalamus acts, there’s an even bigger boss—the amygdala. It’s the one that kicks off the whole reaction by alerting the hypothalamus. Once cortisol gets produced by the adrenal glands, it affects...

Bebas

Belakangan lagi asyik-asyiknya membaca karyanya Okky Madhasari, entah kenapa rasanya terasa lebih mudah dicerna, entah karena saya sedang ujub merasa otak saya yang memang lagi encer atau memang mba Okky bisa dengan cantik menyusun kata-kata di buku-buku beliau. Dua buku yang saya baca judulnya “Entrok” dan “Pasung Jiwa”. Dari dua buku ini saya mengerti topik ini memiliki benang merah yaitu keberanian untuk mati maupun hidup, sepertinya melihat latar belakang beliau sebagai wartawan yang idealis dapat dimaklumi sehingga buku-buku yang ditulis tidak jauh dari keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat marginal yang kadang justru direndahkan oleh sesamanya. Buku “Entrok” menggambarkan Marni seorang ibu yang hidup dengan kepercayaan tradisional dan Rahayu yang hidup dengan prinsip agamisnya. Marni hidup mati-matian menghidupi dirinya bahkan walaupun sudah bersuami malah apes bertemu suami yang kerjanya hanya “jajan” dan mabuk-mabukan, lalu setelah Rahayu besar dilalah malah men...