Satu tambah satu itu harusnya dua, atau satu tambah satu itu artinya tak terhingga. Saya masih ingat, saat itu lagi jam kosong waktu masih SMA, dan Guru Bimbingan Konseling atau bisa dibilang Guru BK yang akhirnya memutusan mengisi jam kosong tersebut. Kata beliau satu tambah satu itu harusnya jawabannya tak terhingga. Seisi kelas langsung heboh, pertanyaan dan jawaban filosofis, nampaknya memang selalu menjadi topik menyenangkan di kalangan remaja. Alasan dari jawaban tak terhingga itu, beliau biarkan begitu saja, kata si bapak "nanti kalau kalian dewasa, kalian akan mengerti sendiri".
Dan sekarang sudah 2025 di hari Jumat ini, saya tiba-tiba teringat beliau. Semoga beliau sehat selalu. Salah satu guru tertua di sekolah, dan terlihat paling santai, entah karena memang guru BK begitu, atau memang bawaan beliau saja, saya juga tidak tahu. Sejak kecil, saya menyenangi mendengarkan cerita dan bercerita, bahkan pernah iseng ikut lomba di Kabupaten hanya untuk sekadar bercerita. Lucu juga kalau diingat-ingat, layaknya anak SMA pada umumnya yang menggebu ketika akan mengikuti lomba, dilengkapi dengan selendang, bedak yang tebal dan suara yang dibuat-dibuat, lalu maju ke depan di dalam sebuah aula besar. Ah, rasanya perasaan deg-degan itu masih bisa dirasakan.
Kembali membahas perkara satu tambah satu jawabannya tak terhingga. Karena ini berasal dari pertanyaan yang tidak eksak, maka nampaknya tidak perlu eksak juga untuk mengerti hal ini. Dilengkapi kemarin baru selesai diskusi dengan abah perihal dinamika dunia kerja. Sebagai anak bawang yang baru icip-icip bekerja di perusahaan sebesar ini, dengan modal yang awalnya nekat-nekat saja. Saya kadang merasa apa ya titik pencapaian dari seorang buruh ketika dia merasa sudah terikat dengan pekerjaannya, atau memang tidak harus merasa terikat. Jawaban yang saya temukan, adalah merasa terikat atau tidak terikat itu ya tidak penting, yang penting. dikerjakan. Karena, yang dibutuhkan adalah mampu memberikan hasil atau tidak. Jika dikaitkan dengan satu tambah satu adalah tak terhingga, dihubungkan dengan kondisi saya saat ini adalah, bagaimana caranya agar bisa tetap bisa berdikari dalam hidup, karena memang sesuatu tidak ada yang pasti (alias merasa terikat ataupun tidak terikat). Karena konotasi tak terhingga ya ketidakpastian.
Hal-hal non-eksak, yang nampaknya perlu lebih sering dipahami oleh orang-orang yang terbiasa dengan ritme rutinitas. Mengerti bahwa memang secara pribadi tidak semua harus sesuai timeline hidup yang diinginkan. Walaupun dalam artian, ini bukan untuk mengglorifikasi kemalasan. Saya juga masih ingat, waktu itu semester 3 semasa kuliah saya pernah menuliskan untuk mendapat beasiswa dan nilai di atas 3,5, dan ya berhasil. Apakah saya bahagia ? ya tentu saja bahagia. Namun, dua hal ini yang berhasil diantara 10 "wishlist" lainnya, hidup akhirnya dipenuhi dengan tekanan, seandainya waktu itu saya lebih bijak, dengan tidak menuliskan itu sebagai target namun lebih kepada arah atau tujuan saja, yang kalau dapat ya alhamdulillah, nggak dapat ya wasyukurilah, bisa jadi hembusan nafasnya tidak perlu terhengal, saat gila-gilaan harus mengejar nilai dan tetap aktif berorganisasi.
Mungkin itu alasan Tuhan, mengapa akhirnya sekarang, ditempatkan di posisi, ayo bernafas dulu, tidak semua harus dicapai saat ini juga, tidak semua harus seketika terjadi. Bahkan untuk perkara menikmati gaji sendiri, membolehkan diri membeli atau dibelikan hal-hal random, dan membeli buku tanpa harus berpikir lebih panjang dibanding zaman masih sekolah, dan saat jatuh cinta ya dinikmati saja dulu, tidak usah tergesa-gesa pula. Hal-hal yang sepertinya mudah untuk dijalani ternyata perlu otak juga untuk menyadarkan hati yang kadang memang suka tidak sinkron.
Kalau kata ibu kendari,"yang namanya hidup itu ya memang tempatnya capek, kalau nggak capek, ya nggak hidup namanya". Diimbangi dengan ucapan mamah, "kalau hidup itu secukupnya saja, karena ya kalau diporsi berlebih, ya mau buat apa juga segitunya".
Sekian dulu curcol hari ini, hari sudah makin panas, dan saya akan beristirahat sebentar sebelum masuk kerja lagi. Sampai jumpa di curcol yang lainnya.
Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2025.

Jadi satu tambah satu itu?
ReplyDelete