Skip to main content

Curcol #3 Satu Tambah Satu

Satu tambah satu itu harusnya dua, atau satu tambah satu itu artinya tak terhingga. Saya masih ingat, saat itu lagi jam kosong waktu masih SMA, dan Guru Bimbingan Konseling atau bisa dibilang Guru BK yang akhirnya memutusan mengisi jam kosong tersebut. Kata beliau satu tambah satu itu harusnya jawabannya tak terhingga. Seisi kelas langsung heboh, pertanyaan dan jawaban filosofis, nampaknya memang selalu menjadi topik menyenangkan di kalangan remaja. Alasan dari jawaban tak terhingga itu, beliau biarkan begitu saja, kata si bapak "nanti kalau kalian dewasa, kalian akan mengerti sendiri". 

Gambar pemanis

Dan sekarang sudah 2025 di hari Jumat ini, saya tiba-tiba teringat beliau. Semoga beliau sehat selalu. Salah satu guru tertua di sekolah, dan terlihat paling santai, entah karena memang guru BK begitu, atau memang bawaan beliau saja, saya juga tidak tahu. Sejak kecil, saya menyenangi mendengarkan cerita dan bercerita, bahkan pernah iseng ikut lomba di Kabupaten hanya untuk sekadar bercerita. Lucu juga kalau diingat-ingat, layaknya anak SMA pada umumnya yang menggebu ketika akan mengikuti lomba, dilengkapi dengan selendang, bedak yang tebal dan suara yang dibuat-dibuat, lalu maju ke depan di dalam sebuah aula besar. Ah, rasanya perasaan deg-degan itu masih bisa dirasakan. 

Kembali membahas perkara satu tambah satu jawabannya tak terhingga. Karena ini berasal dari pertanyaan yang tidak eksak, maka nampaknya tidak perlu eksak juga untuk mengerti hal ini. Dilengkapi kemarin baru selesai diskusi dengan abah perihal dinamika dunia kerja. Sebagai anak bawang yang baru icip-icip bekerja di perusahaan sebesar ini, dengan modal yang awalnya nekat-nekat saja. Saya kadang merasa apa ya titik pencapaian dari seorang buruh ketika dia merasa sudah terikat dengan pekerjaannya, atau memang tidak harus merasa terikat. Jawaban yang saya temukan, adalah merasa terikat atau tidak terikat itu ya tidak penting, yang penting.  dikerjakan. Karena, yang dibutuhkan adalah mampu memberikan hasil atau tidak. Jika dikaitkan dengan satu tambah satu adalah tak terhingga, dihubungkan dengan kondisi saya saat ini adalah, bagaimana caranya agar bisa tetap bisa berdikari dalam hidup, karena memang sesuatu tidak ada yang pasti (alias merasa terikat ataupun tidak terikat). Karena konotasi tak terhingga ya ketidakpastian.

Hal-hal non-eksak, yang nampaknya perlu lebih sering dipahami oleh orang-orang yang terbiasa dengan ritme rutinitas. Mengerti bahwa memang secara pribadi tidak semua harus sesuai timeline hidup yang diinginkan. Walaupun dalam artian, ini bukan untuk mengglorifikasi kemalasan. Saya juga masih ingat, waktu itu semester 3 semasa kuliah saya pernah menuliskan untuk mendapat beasiswa dan nilai di atas 3,5, dan ya berhasil. Apakah saya bahagia ? ya tentu saja bahagia. Namun, dua hal ini yang berhasil diantara 10 "wishlist" lainnya, hidup akhirnya dipenuhi dengan tekanan, seandainya waktu itu saya lebih bijak, dengan tidak menuliskan itu sebagai target namun lebih kepada arah atau tujuan saja, yang kalau dapat ya alhamdulillah, nggak dapat ya wasyukurilah, bisa jadi hembusan nafasnya tidak perlu terhengal, saat gila-gilaan harus mengejar nilai dan tetap aktif berorganisasi.

Mungkin itu alasan Tuhan, mengapa akhirnya sekarang, ditempatkan di posisi, ayo bernafas dulu, tidak semua harus dicapai saat ini juga, tidak semua harus seketika terjadi. Bahkan untuk perkara menikmati gaji sendiri, membolehkan diri membeli atau dibelikan hal-hal random, dan membeli buku tanpa harus berpikir lebih panjang dibanding zaman masih sekolah, dan saat jatuh cinta ya dinikmati saja dulu, tidak usah tergesa-gesa pula. Hal-hal yang sepertinya mudah untuk dijalani ternyata perlu otak juga untuk menyadarkan hati yang kadang memang suka tidak sinkron. 

Kalau kata ibu kendari,"yang namanya hidup itu ya memang tempatnya capek, kalau nggak capek, ya nggak hidup namanya". Diimbangi dengan ucapan mamah, "kalau hidup itu secukupnya saja, karena ya kalau diporsi berlebih, ya mau buat apa juga segitunya".

Sekian dulu curcol hari ini, hari sudah makin panas, dan saya akan beristirahat sebentar sebelum masuk kerja lagi. Sampai jumpa di curcol yang lainnya.

Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2025.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Curcol #4 Katawa

Alem kalutuh, mun kuan uluh huran, apalagi mun belum lekan lewu je jatuh are uluh nah, tau kare are je belum tapi iye beda alam ah. En jikau tutu en dia, dia katawa kia. Makin maju zaman makin are uluh je tame ka lewu itah, en niat bahalap en dia, Tuhan ih je nampa kaputusan ah. Harun due kalimat tuh manampa tulisan jituh, pehe jadi angat kuluk kuh. Ampi mangat nampa mahapa bahasa Indonesia dibanding bahasa kabuat. Okey, tampuli membahas perkara katawa en dia katawa. Oleh akhir-akhir tuh, pambelum angat are lepah melai kantor akan manggau duit, kadang aku tuh mikir, en uluh tuh puna harus belum kilau tuh kah, kurik, sakula, bagawi, mun rajaki a manikah mbah te manak mbah te matei. En kate ih? Tapi, mikir kia, buhen pambelum harus are kare kahandak, amun kuan motivator nah, angat itah tege motivasi kua. Tapi, kenampi umba uluh je handak belum ie kate-kate ih, en jikau sala ?. Harun endau umba Azi, ikei due mander narai kabeda antara menggite informasi bara sosial media je kilau instagra...

Konten Ramah Orang Tua

Kipas angin yang nyaring, di luar juga sedang gerimis, ditemani ada secangkir kopi jahe. Rasanya suasana yang pas untuk menulis kembali. Setahun terakhir rasanya seperti kehidupan yang sudah dipilih sendiri, dari mulai pekerjaan dan hal yang lainnya. Memutuskan untuk bekerja di sektor yang tidak pernah dibayangkan saat masih kuliah, juga bukan hal yang masuk dalam perencanaan hidup. Lucu juga sebenarnya, saat kuliah seperti anak sains ambis pada umumnya, yang semua tertata dan tertarget dan termakan quotes motivator, sampai rasanya lupa berpijak. Ah, kenapa jadi puitis ya. Bergabung dengan berbagai organisasi, menyibukkan diri, seolah ingin mengubah dunia keesokan harinya, sekarang harus berdamai dengan realitas bahwa ada diri yang harus dihidupi sendiri, entah ini terdengar kasihan atau malah bangga. Kata orang, harga diri seorang laki-laki itu di pekerjaannya, dan wanita dengan kodratnya feminitasnya harusnya menjadi wanita seutuhnya, dengan me-_nurture_ kehidupannya. Kalau ditanya, ...