"Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita.
Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan". Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah sebuah dosa ketika wanita memiliki suara di kerongkongaannya. Tren saat ini yang menjadikan wanita sebagai makhluk penadah dan laki-laki sebagai pemberi atau bahasa instagramnya "lelaki provider". Sebenarnya tidak ada salahnya, toh sebenarnya laki-laki maupun wanita mana yang tidak ingin jika hanya ongkang kaki di rumah, lalu mendapat uang. Narasi yang menyebutkan bahwa lelaki hanya dinilai ketika ia memiliki duit, dengan kata lain semakin tinggi gaji seorang lelaki maka semakin diagungkanlah ia. Mengapa narasi seperti ini tidak diterapkan pula pada wanita. Ketika seorang wanita bekerja dan memenuhi kebutuhannya layaknya manusia yang butuh makan, umumnya narasi yang muncul "jangan terlalu keras bekerja, kan nanti bakal punya suami juga atau narasi lain seperti, bukannya wanita itu tanggungan orang tuanya ya, rasanya saya ingin sekali berkata dengan alay "get a life mas bro".
Apalagi di tengah ekonomi saat ini, yang sepertinya sama saja jika melihat dalam maupun luar negeri, walaupun rasanya yang di dalam negeri ini rasanya sudah amblas ambang batas. Dengan keadaan yang seperti ini, jika masih masuk kategori kalangan menengah atau menengah ke bawah, membatasi gerak wanita sepertinya hal yang aneh. Apalagi jika harus membawa isu agama, saya rasa, entah itu agama abrahamik atau kepercayaan manapun akan kalah ketika dihadapkan dengan perkara bertahan hidup. Ini sama seperti ketika orang-orang ingin membicarakan idealisme dikala perut masih kosong, tidak akan ketemu jalannya jika hal ini dihadapkan dengan gender seseorang.
Sayangnya, sudah di abad ke-21 ini, masih ada saja yang berpikiran bahwa perempuan yang bekerja adalah perempuan yang susah diatur, perempuan yang ingin maunya sendiri, perempuan yang begini dan begitu. Mungkin sudah saatnya untuk mengindahkan perspektif seperti ini, biarkan baik perempuan maupun laki-laki tidak usah dipertanyakan pilihan hidupnya, toh yang menjalani individu masing-masing, dan tidak ada yang bisa memberikan standar hidup yang satu ke yang lainnya. Karena sejatinya cerita setiap individu memiliki plotnya masing-masing, hanya karena yang satu lebih berpengalaman atau lebih-lebih dalam hal lainnya, tidak ada hak orang itu untuk menentukan kemana arah hidup seseorang. Sekedar saran boleh, tapi feodal jangan. Dan mungkin sudah saatnya pula, untuk memberikan pemahaman pada generasi selanjutnya, bahwa wanita maupun laki-laki di usia dewasa tidak bergantung pada siapapun hidupnya, Karena yang butuh untuk mengaktualisasi diri tidak bergantung pada jenis kelamin. Agar masyarakat yang terbentuk tidak patriarki dan tidak menakutkan bagi perempuan, negara yang bagus ya kalau rumahnya bagus, negara yang pintar ya karena masyarakatnya pintar. Efek domino sebuah keluarga yang terdengar klise tapi tidak dapat dielak.
Sekolah baik berbentuk asrama maupun sekolah umum, tidak akan pernah bisa menjadi obat bagi generasi yang sakit. Terbukti dari kasus-kasus aneh dan menggelikan tidak hanya ada di sekolah umum bahkan kadang lebih parah pada sekolah yang memiliki asrama. Generasi yang bisa bekerja, baik sebagai buruh atau bisa memiliki usahanya sendiri, pada akhirnya juga menggantungkan keputusan pada dirinya sendiri, dan yang semacam ini tidak dibentuk melalui keluarga yang membedakan "tidak pada tempatnya" pada anak-anak laki-laki maupun perempuan. Sesederhana membiarkan anak bertanya tanpa dicela, juga sebuah kenyamanan. Dan ya, jika punya uang berlebih membelikan buku pada anak, buku apa saja. Sebagai mantan anak kecil yang banyak tanya dan tidak pernah dimarahi jika membeli buku oleh abah, saya merasa itu sangat membantu dalam hidup. Walaupun sekarang semenjak ada bapak negara, kalau sudah debat dengan dia saya masih banyak kalahnya.
Hujan masih lebat dan es saya juga sudah saya simpan lagi ke kulkas, mungkin sekian dulu curcol hari ini, semoga saya makin rajin, tidak hanya bekerja tapi juga menulisnya.
Kalimantan Tengah, 8 September 2025.
.png)
Comments
Post a Comment