Pagi-pagi, hari minggu, ada buku, terus ada kopi, banyak pohon, duduk depan rumah, sepertinya hal yang pantas untuk diidamkan. Sebagai salah satu keturunan dayak-sulawesi yang ada kebanjar-banjarannya, meminum kopi atau teh saat pagi hari adalah hal yang lumrah. Apalagi jika ditambah dengan wadai alias kue untuk panas-panas, yang baru saja dibeli dari tukang dagang keliling di pagi hari. Sedari kecil, saya terbiasa melihat budaya orang banjar dengan sarapan "kue untuk" dan kopi atau teh di pagi hari, sembari menunggu anaknya berangkat sekolah, jika yang merokok maka akan sambil merokok, jika yang tidak ya akan dengan kue dan minumannya saja. Bahkan saya masih ingat saat itu, waktu kami memutuskan untuk pindah ke Sulawesi dan mamah tetap dengan budaya banjarnya menyediakan sarapan beserta teh serta bekal untuk si vita kecil ini agar tidak kelaparan di sekolah.
Kembali bercerita tentang rokok dan kopi, dua imboost dopamin yang tidak pernah ketinggalan zaman, bahkan pada tahun 2000 an dikomersilkan rokok elektrik sebagai alternatif rokok, yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan apakah ini lebih baik atau lebih buruk atau bahkan sama saja dampaknya seperti rokok biasa. Melihat hal ini, membuat saya mengerti bahwa manusia senang sekali mencari sesuatu untuk menghindar sejenak dari apa yang dihadapinya, atau duduk dengan hal tersebut secara langsung. Sebagai salah satu penyuka kopi, walaupun bukan ahli kopi, saya tidak memungkiri kehadiran kafein seperti pengganti paracetamol jika sedang pusing. Terkadang saya membayangkan, apa ya rasanya jika menggabungkan kopi dan rokok seperti yang orang-orang lakukan, jika pemakai narkoba nge-fly dengan narkotikanya, mungkin para pecinta kopi dan atau rokok mereka menikmati dua hal ini dengan sensasi nge-flynya sendiri. Hanya saja stigma terhadap perempuan yang merokok itu seperti aib bagi zaman, seolah yang pusing hanya laki-laki saja. Mengingat dulu nenek saya sebagai banjar-melayu memiliki hobi "menginang" bercampur tembakau yang secara komposisi juga mengandung nikotin. Mungkin karena sampai saat ini saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menikmati rokok, selain karena hanya menambah jajan saya yang sudah banyak ini, juga hanya akan tambah ribet saja jadi saya memutuskan untuk tidak dulu. Adanya kemajuan zaman, membuat saya mengerti bahwa toleransi terhadap wanita makin kesini malah makin aneh, atau mungkin bisa jadi objeknya juga yang haus validasi. Karena tren kopi dan rokok makin kesini malah semakin dinormalisasi menjadi bagian dari fashion, walaupun dua objek ini bukan bagian dari fashion, akibatnya terkadang diminum atau diisap bukan karena ingin dikonsumsi, ya biar terlihat keren saja. Pastinya ini tidak terlepas dari adanya sosial media dengan segudang trennya.
Kemarin saya tidak sengaja menemukan kata-kata di twitter yang cukup menarik kayaknya, kurang lebih begini "Sosial media itu membuat si kaya memperlihatkan kehidupannya kepada si miskin, lalu si miskin membeli hal-hal yang dibeli si kaya, dan malah membuat si miskin malah menjadi lebih miskin" atau jika disingkat menjadikan masyarakat di negara miskin menjadi konsumtif. Tidak dipungkiri, dulu sebelum tahu ada kopi yang bisa diseduh dengan air dingin langsung jadi, saya tidak pernah berpikir bahwa ada tandingan dari kopi kapal api dan kopi sachet lainnya. Semenjak tahu, bahwa ada begitu banyak varian kopi dengan segala teksturnya, saya juga menjadi penasaran apa bedanya kopi satu dengan yang lainnya. Dan seperti biasa, semakin tahu, justru semakin penasaran. Sebenarnya, ini juga banyak faktor, salah satunya juga di Kalimantan memang tidak ada budaya tanam kopi seperti di daerah lain, dan sekarang informasi dan penduduk luar berdatangan, maka orang-orang di Kalimantan akhirnya juga latah budaya kopi termasuk saya.
Norma sosial pada penikmat kopi dan rokok yang katanya pekerja keras, sepertinya juga kurang cocok. Karena juga ada manusia, yang hanya kafe ke kafe saja hidupnya, tanpa bekerja dan menghabiskan uang, atau mungkin ada juga yang harusnya bekerja malah waktunya habis hanya untuk ngopi. Kembali lagi, semua tergantung keadaan masing-masing. Kebiasaan manusia membuat stigma ini, kadang untung ya kadang buntung, tergantung waktu dan kondisi. Kerja keras sendiri kan juga hal yang tidak tahu kapan dimulai stigmanya, mungkin saat zaman penjajahan, atau sebelum-sebelumnya, tidak ada yang tahu pasti. Manusia katanya harus bekerja keras agar bisa berkompetisi menghadapi dunia, lalu menjadi puncak tertinggi di rantai makanan, lalu apa setelah itu, tidak ada yang tahu juga atau mungkin karena muncul di dalam agama abrahamik pada umumnya, puncak kebaikan orang ketika mampu adalah bermanfaat bagi sesama. Karena ketika seseorang berada di puncak rantai makanan, hanya ada dua kemungkinan entah itu akan digunakan untuk hal yang baik atau hal yang tidak mendatangkan kebaikan.
Perkara orang-orang yang percaya sains tentang rokok serta orang-orang sosial dengan tembakaunya, juga tidak akan pernah habisnya, kembali ke preferensi dan pengalaman hidup masing-masing, dan pastinya tingkat toleransi masing-masing. Itu mengapa, perlunya mengerti dimana bertinggal, disitu dijunjung budaya tempat tinggal tersebut. Sejatinya, manusia itu makhluk yang unik, tidak bisa serta merta satu orang memaksakan nilai yang dia anut ke orang lain, hanya karena dia meyakini itu benar. Lalu bagaimana jika muncul pertanyaan, bukankah kita selalu ingin orang terdekat kita mendapatkan hal yang terbaik di hidupnya, ya itu beda fase lagi, disitu muncul rasa toleransi dan saling memahami, ini harusnya gampang, namun sedari dini kita sudah terbiasa dengan budaya nggah nggeh, dengan mendiamkan segala sesuatu karena takut itu salah, akhirnya generasi saat ini termasuk saya juga masih belajar, bagaimana caranya mengkomunikasikan sesuatu pada tempat dan kondisi yang tidak harus sempurna.
Hari sudah senja, dan kopi saya sudah habis, sekian dulu curcol hari ini.
Kalteng, 28 September 2025.

Comments
Post a Comment