Skip to main content

ANOTHER STORY BORNEO MENGABDI DI MERATUS


ANOTHER STORY BORNEO MENGABDI DI MERATUS

Foto setelah pemeriksaan kesehatan gratis

Akhirnya setelah sekian lama, terealisasikan juga another part dari cerita meratus. Langsung aja kali ya, jadi foto di atas itu foto gabungan antara panitia kegiatan Meratus #1, peserta serta perangkat desa. 

Oke kembali ke cerita, hari pertama kami datang, disambut baik banget sama mama dan kakek nenek serta warga balai disana, juga Ka Syihab salah satu kandidat Indonesia Mengajar. Kami datang di senja hari, malam pertama kita pengenalan dengan warga balai sekaligus pendekatan juga. mama dan seluruh keluarga di balai sangat welcome dengan para volunteer. 

 Panitia BM dengan Latar Balai 

Long short story, kita ngadakan kegiatan lainnya yaitu pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan ini dilakukan pastinya dengan lembaga resmi sekitar seperti pihak desa dan puskesmas. Hal yang menyenangkan ternyata antusiasme dari pihak puskesmas yang juga juga membawa suasana semakin ramai. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, para volunteer juga melakukan pembagian pakaian gratis kepada penduduk sekitar.

Kita nggak berekspektasi bahkan akan banyak sekali penduduk yang ikut berpartisipasi mengingat jalur transportasi antar wilayah di desa lumayan jauh dan sulit, tapi alhamdulillah ternyata target penduduk yang datang ke kegiatan bahkan lebih banyak, sambil sebagian melaksanakan kegiatan beberapa volunteer sekalian main sama anak-anak, trust me salah satu yang paling memorable itu ketika main sama anak-anak, dan pastinya berbincang satu sama lain antar volunteer, seven days feels like the  whole year already knows each other. 

Sesi Istirahat Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis


Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Selain kegiatan ini, kita pastinya ada kegiatan rutin yaitu program mengajar dan bermain di sekolah. Sekolah biasanya baru mulai sekitar jam 9 termasuk dengan kegiatan upacara senin. Jadwal ini sangat dimaklumi mengingat kembali lagi jalan yang susah dan pendidikan belum menjadi sesuatu yang prestige di desa, namun dengan masih adanya anak-anak yang masih sekolah itu sudah sangat menjadi harapan besar bagi generasi mendatang. Salah satu hal yang paling rame untuk bagian ini saat volunteer dan anak-anak mengadakan kegiatan pohon impian, karena penulis yang kurang berpengalaman dengan ice breaking terbantu sekali dengan panitia dan volunteer lain. 

Bermain bersama anak-anak

Fun fact waktu itu ada anak-anak yang bercita-cita jadi Bowo, FYI Bowo ini salah satu artis tiktok pada zamannya, dengan keterbatasan akses informasi yang ada, hal ini lumayan suprising, lucu, dan menyedihkan juga sekaligus but that's okay namanya juga anak-anak, yang memorable juga ada yang mau bercita-cita jadi dokter biar bisa ngobatin orang-orang di desa dan ada yang mau jadi tentara biar bisa menjaga negara katanya. Hal-hal sederhana seperti bermain ular naga panjang, dan kejar-kejaran bahkan makan buah bareng di sekolah setelah kegiatan sangat mengesankan. Berikut ada sedikit gambaran kegiatan di sekolah.



Before After Upacara 

Selain kegiatan sesuai jadwal, anak-anak juga sering berkunjung sembari para volunteer sedang istirahat di balai atau di rumah atau di rumah Pak Kades, biasanya kita cerita banyak atau kita makan buah lagi bareng, ya temen-temen banyak banget buah gratis bahkan sayur, bahkan sambal dan makanan lain kita sering dikasih sama penduduk setempat. Bahkan ada satu volunteer yang harusnya keliling banyak mau kita dijamu disuruh stop lebih lama untuk makan buah bareng, they're really really lovely people. 

                                                                Waktu mencok bareng

Sebenarnya masih banyak cerita lain dalam waktu 7 hari kegiatan, tapi mungkin cukup sampai disini. Terakhir ada dokumentasi saat volunteer dan panitia ke Lok Baintan, salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan. 

Nongki di atas Kelotok

Salam kangen untuk semua panitia dan volunteer.

See You on The Other Stories :).





Comments

Popular posts from this blog

Curcol #1 Wanita dan Kerja

 "Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita. Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan".  Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah...

Seblak

You know when you get angry, and you just want to blurt things out—whether it's just regular anger or you're completely pissed off? I always wonder why, when I’m upset about something or when I’m around my loved ones, it feels like my brain just shuts off and I can’t think clearly. Do other people experience the same thing? Maybe it's a pattern—like when you're in danger or just too comfortable with someone. Or maybe it happens when you’re low on energy, and suddenly you crave Seblak or something really sweet. I’ve been curious about this and wanted to understand it better. So, the hypothalamus plays a big role here. When you get angry at something or someone, the hypothalamus is like the boss that indirectly tells the adrenal glands to produce cortisol. But even before the hypothalamus acts, there’s an even bigger boss—the amygdala. It’s the one that kicks off the whole reaction by alerting the hypothalamus. Once cortisol gets produced by the adrenal glands, it affects...

Bebas

Belakangan lagi asyik-asyiknya membaca karyanya Okky Madhasari, entah kenapa rasanya terasa lebih mudah dicerna, entah karena saya sedang ujub merasa otak saya yang memang lagi encer atau memang mba Okky bisa dengan cantik menyusun kata-kata di buku-buku beliau. Dua buku yang saya baca judulnya “Entrok” dan “Pasung Jiwa”. Dari dua buku ini saya mengerti topik ini memiliki benang merah yaitu keberanian untuk mati maupun hidup, sepertinya melihat latar belakang beliau sebagai wartawan yang idealis dapat dimaklumi sehingga buku-buku yang ditulis tidak jauh dari keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat marginal yang kadang justru direndahkan oleh sesamanya. Buku “Entrok” menggambarkan Marni seorang ibu yang hidup dengan kepercayaan tradisional dan Rahayu yang hidup dengan prinsip agamisnya. Marni hidup mati-matian menghidupi dirinya bahkan walaupun sudah bersuami malah apes bertemu suami yang kerjanya hanya “jajan” dan mabuk-mabukan, lalu setelah Rahayu besar dilalah malah men...