Skip to main content

Standar Ganda Bahasa



"One, two, three, and four" adalah empat kata bahasa inggris untuk menyebutkan angka satu, dua, tiga, dan empat. Penggunaan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa tidak dapat diindahkan lagi, terutama dalam dunia bisnis makanan, korporat dan politik. Contoh sederhana adalah penggunaan kata yang sering digunakan adalah istilah delivery untuk menyatakan apakah makanan bisa dilakukan pengantaran dan penggunaan banyak menu makanan yang di barat-baratkan seperti Fried Rice yang berarti Nasi Goreng atau Fried Chicken yang berarti ayam goreng atau bahkan dalam dunia korporat istilah noted untuk menyatakan bahwa tugas sudah tercatat dan done berarti pekerjaan telah selesai.

Pencampuran bahasa inggris dan Indonesia yang seperti dua belah mata pisau ini jika tidak dikontrol maka dapat berdampak serius pada hilangnya bahasa ibu baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Sebagai penutur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara komunikatif, saya mengakui karena pembiasaan dari awal belajar Bahasa Inggris adalah dengan mencampurkan kedua bahasa ini berujung akhirnya miskin kosakata dan tidak jarang mengalami kesulitan untuk mengingat bahasa "sendiri". Sekali waktu saya pernah diskusi dengan abah bahwa salah satu cara menguasai bahasa adalah dengan meluangkan waktu selama periode tertentu dan berfokus pada bahasa tersebut, sayangnya saat itu saya belum mengerti mengapa beliau yang sudah terbiasa menggunakan Bahasa Inggris tidak pernah menggunakan Bahasa Inggris saat kami berbicara padahal beliau menginginkan anaknya untuk mempelajari bahasa ini sampai saya mengerti bahwa Bahasa Inggris jika memang dipelajari sekadar untuk berkomunikasi maka gunakan sesuai fungsi tidak perlu diglorifikasi. Kemarin juga saat cerita dengan Azi dia punya pendapat bahwa ada baiknya karena kita bukan seorang entertainer kita punya hak yang lebih leluasa untuk mengurangi pencampuran bahasa Inggris dan Indonesia saat berbicara, namun tentunya hal ini subjektif alias tidak bisa diterapkan kepada semua orang atau pada setiap situasi.

Tindakan menganggap mewah sesuatu ketika bahasa Inggris  yang digunakan, jika dipandang dari sisi ekonomi yang biasanya membuat satu produk memiliki persona yang "wah" tentu tidak ada salahnya, bahkan mungkin akan berdampak positif contoh nama Produk Minuman Coklat Susu menjadi Chocolate Milk mungkin akan lebih menjual. Namun, ketika Bahasa Inggris dipahami sebagai jurang pemisah antara si pintar dan si bodoh agaknya sebuah pemahaman yang harus diluruskan, lagi-lagi ini hal yang tidak bisa digeneralisir, selingan sedikit sebagai rakyat jelata saya juga sangat berharap memiliki pemimpin yang bilingual karena jika ditarik ke ranah politik akan berbeda topik lagi. Kembali ke jurang pemisah, rasanya disayangkan ketika ada orang-orang yang tidak "menapak tanah" saat menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris tanpa diterjemahkan ke bahasa Indonesia padahal notabene nya tidak seluruh audiens mengerti.

Fenomena lain yang tidak kalah menarik menurut saya adalah ketika orang-orang lebih tertarik untuk mempelajari Bahasa Inggris dibandingkan mempelajari bahasa daerah sendiri, awalnya saya berpikir naif ya ini karena kebutuhan saat ini di dunia kerja seolah mengindahkan kebutuhan pribadi bahwa saya juga tidak ingin bahasa daerah sendiri hilang perlahan karena tidak digunakan lagi, bukankah salah satu sifat komunal suatu suku yang mampu membuat mereka tetap bisa bertahan adalah memiliki kemampuan berbahasa  daerah. 

Pada akhirnya, adanya Standar Ganda Bahasa khususnya Bahasa Inggris dan Indonesia adalah hal yang dibuat orang kita sendiri dan harusnya bisa dikelola sendiri, mungkin salah satu solusinya bisa saja dilakukan dengan memastikan diri sudah mengenal bahasa ibu dan daerah sendiri lalu dilanjutkan mempelajari bahasa lain.

Jangan sampai karena ingin kebarat-baratan malah berujung lupa dengan akar sendiri.

---

Comments

Popular posts from this blog

Curcol #1 Wanita dan Kerja

 "Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita. Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan".  Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah...

Seblak

You know when you get angry, and you just want to blurt things out—whether it's just regular anger or you're completely pissed off? I always wonder why, when I’m upset about something or when I’m around my loved ones, it feels like my brain just shuts off and I can’t think clearly. Do other people experience the same thing? Maybe it's a pattern—like when you're in danger or just too comfortable with someone. Or maybe it happens when you’re low on energy, and suddenly you crave Seblak or something really sweet. I’ve been curious about this and wanted to understand it better. So, the hypothalamus plays a big role here. When you get angry at something or someone, the hypothalamus is like the boss that indirectly tells the adrenal glands to produce cortisol. But even before the hypothalamus acts, there’s an even bigger boss—the amygdala. It’s the one that kicks off the whole reaction by alerting the hypothalamus. Once cortisol gets produced by the adrenal glands, it affects...

Bebas

Belakangan lagi asyik-asyiknya membaca karyanya Okky Madhasari, entah kenapa rasanya terasa lebih mudah dicerna, entah karena saya sedang ujub merasa otak saya yang memang lagi encer atau memang mba Okky bisa dengan cantik menyusun kata-kata di buku-buku beliau. Dua buku yang saya baca judulnya “Entrok” dan “Pasung Jiwa”. Dari dua buku ini saya mengerti topik ini memiliki benang merah yaitu keberanian untuk mati maupun hidup, sepertinya melihat latar belakang beliau sebagai wartawan yang idealis dapat dimaklumi sehingga buku-buku yang ditulis tidak jauh dari keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat marginal yang kadang justru direndahkan oleh sesamanya. Buku “Entrok” menggambarkan Marni seorang ibu yang hidup dengan kepercayaan tradisional dan Rahayu yang hidup dengan prinsip agamisnya. Marni hidup mati-matian menghidupi dirinya bahkan walaupun sudah bersuami malah apes bertemu suami yang kerjanya hanya “jajan” dan mabuk-mabukan, lalu setelah Rahayu besar dilalah malah men...