Skip to main content

Konten Ramah Orang Tua


Kipas angin yang nyaring, di luar juga sedang gerimis, ditemani ada secangkir kopi jahe. Rasanya suasana yang pas untuk menulis kembali. Setahun terakhir rasanya seperti kehidupan yang sudah dipilih sendiri, dari mulai pekerjaan dan hal yang lainnya. Memutuskan untuk bekerja di sektor yang tidak pernah dibayangkan saat masih kuliah, juga bukan hal yang masuk dalam perencanaan hidup. Lucu juga sebenarnya, saat kuliah seperti anak sains ambis pada umumnya, yang semua tertata dan tertarget dan termakan quotes motivator, sampai rasanya lupa berpijak. Ah, kenapa jadi puitis ya. Bergabung dengan berbagai organisasi, menyibukkan diri, seolah ingin mengubah dunia keesokan harinya, sekarang harus berdamai dengan realitas bahwa ada diri yang harus dihidupi sendiri, entah ini terdengar kasihan atau malah bangga.

Kata orang, harga diri seorang laki-laki itu di pekerjaannya, dan wanita dengan kodratnya feminitasnya harusnya menjadi wanita seutuhnya, dengan me-_nurture_ kehidupannya. Kalau ditanya, memangnya tidak ingin, menjadi wanita yang di rumah saja, hidup dengan damai, tanpa memikirkan keuangan. Saya rasa, siapapun tidak ingin hidup dalam keadaan survival mode, dan di tengah ekonomi begini, jangankan yang miskin, yang kayapun masih memikirkan dirinya dan asetnya. Pada akhirnya setiap orang juga bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Pekan lalu saya berdiskusi dengan Abah, membahas bagaimana beliau bisa hidup dan menghidupi anaknya di dunia swasta dari sejak muda. Sosok, yang kalo kata mamah dulu, kalau kamu mau cari suami kayak abah, mungkin satu diantara seribu baru ketemu. Seperti anak wanita pada umumnya, yang mengidolakan bapaknya sendiri, sepertinya salah satunya adalah saya.

Hal yang saya kagumi dari beliau adalah, selama ini, terutama dulu waktu kecil, saya tidak pernah melihat bapak dengan kepusingannya, yang ada pulang kerja, mandi lalu bermain bersama saya. Saya tidak mengerti bahwa di dunia kerja ada yang namanya konflik ataupun dramanya. Pertama kali lulus, lalu tiba-tiba pindah ke surabaya dan merasakan sakit sendirian di kampung orang. Sepertinya, awal yang bagus dalam mengerti realita hidup, memesan gojek sendiri, berobat sendiri, pesan makan sendiri. Lalu siang-siang dibuntuti orang sampau ke depan gang kos. terdengar seperti skrip yang bagus untuk konten drama. Mungkin keberanian ini selain berasal dari keturunannya si Mamah, juga hasil praktik dari pertanyaan saya waktu itu, memangnya Abah tidak takut mati, bekerja kesana kesini, lalu dengan santainya beliau menjawab, ya kalau perkara mati, ya kalau memang waktunya mati, ya mati aja, mau di udara, di laut, maupun di darat ya sama saja. Dalam hati saya mengiyakan, selanjutnya entah saya lupa memberikan pertanyaan apa lagi, yang pasti saya bersyukur setiap pertanyaan aneh saya, selalu disambut dengan baik, hal itu mungkin yang membuat saya mengerti bahwa banyak bertanya itu tidak mengapa, asal tahu tempatnya.

Sudah cukup menyanjung abah, sekarang bagian selanjutnya adalah mamah.

Mama ini, kadang dipanggil mamah kadang mama, kalau kata saya sih, mungkin kalau abah menjadi sosok yang memupuk, nah si mamah, dengan peran vital lainnya, sebagai seorang ibu menjadi penanam bibitnya. Mungkin dulu kalau mereka tidak bertemu, ya saya juga tidak akan ada, dan ini kan dimulai dari si perempuan yang memutuskan laki-laki mana, yang diperbolehkan bertandang. Dulu, saya kira menjadi bebas dan diperbolehkan berjalan dan tinggal di tempat yang jauh, adalah hal yang biasa. Makin kesini saya makin mengerti bahwa hal-hal sederhana seperti ini, juga yang memudahkan hidup. Saya jadi memiliki pilihan lebih terbuka mengenai kehidupan seperti apa yang ingin dimiliki, ya walaupun tidak dipungkiri seperti orang tua Asia pada umumnya yang membutuhkan kejelasan. Hanya saja dua makhluk yang sudah dipilih Tuhan sebagai orang tua Evita ini, syukurnya masih banyak toleransinya. Saya makin yakin, pilihan merantau dan bertemu banyak orang, mengenal orang dari berbagai kalangan, salah satu alasan, kedua makhluk yang sudah dipilih Tuhan menjadi orang tua saya ini, menjadi lebih lebih tolerir, yang malah membuat saya berpikir lebih jauh ketika ingin melakukan sesuatu. Kalau kata abah selalu bilang “Abah percaya saja sama kamu” dan Mamah dengan intonasi dayak dan bahasa banjarnya pasti akan berujar “Biar urang tuha memadahi bebuih, ya tergantung Nyawa jua kayapanya”. Sekian dulu curcol hari ini. Dari segala drama hidup, saya masih bersyukur karena kedua orang ini masih hidup.

Panjang umur dan sehat selalu untuk abah dan mama, salam sayang dari anakmu.

Kalteng, 14 Desember 2025. 

Comments

Popular posts from this blog

Curcol #1 Wanita dan Kerja

 "Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita. Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan".  Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah...

Seblak

You know when you get angry, and you just want to blurt things out—whether it's just regular anger or you're completely pissed off? I always wonder why, when I’m upset about something or when I’m around my loved ones, it feels like my brain just shuts off and I can’t think clearly. Do other people experience the same thing? Maybe it's a pattern—like when you're in danger or just too comfortable with someone. Or maybe it happens when you’re low on energy, and suddenly you crave Seblak or something really sweet. I’ve been curious about this and wanted to understand it better. So, the hypothalamus plays a big role here. When you get angry at something or someone, the hypothalamus is like the boss that indirectly tells the adrenal glands to produce cortisol. But even before the hypothalamus acts, there’s an even bigger boss—the amygdala. It’s the one that kicks off the whole reaction by alerting the hypothalamus. Once cortisol gets produced by the adrenal glands, it affects...

Bebas

Belakangan lagi asyik-asyiknya membaca karyanya Okky Madhasari, entah kenapa rasanya terasa lebih mudah dicerna, entah karena saya sedang ujub merasa otak saya yang memang lagi encer atau memang mba Okky bisa dengan cantik menyusun kata-kata di buku-buku beliau. Dua buku yang saya baca judulnya “Entrok” dan “Pasung Jiwa”. Dari dua buku ini saya mengerti topik ini memiliki benang merah yaitu keberanian untuk mati maupun hidup, sepertinya melihat latar belakang beliau sebagai wartawan yang idealis dapat dimaklumi sehingga buku-buku yang ditulis tidak jauh dari keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat marginal yang kadang justru direndahkan oleh sesamanya. Buku “Entrok” menggambarkan Marni seorang ibu yang hidup dengan kepercayaan tradisional dan Rahayu yang hidup dengan prinsip agamisnya. Marni hidup mati-matian menghidupi dirinya bahkan walaupun sudah bersuami malah apes bertemu suami yang kerjanya hanya “jajan” dan mabuk-mabukan, lalu setelah Rahayu besar dilalah malah men...