Skip to main content

Kashva dan Nara




Kashva

Hei Kashva, apa kabar dirimu disana
Hampir dua tahun Nara membohongi perasaanya
Berlutut pada ego
Mengira ia begitu kokoh dengan dirinya
Larut dengan asa-asanya 
Nyatanya kini ia terhenti di jalan yang ia sendiri tak tahu dimana
Ingin lanjut berjalan tapi ia takut tak menemukan Kashva
Ingin berhenti tapi terasa begitu gelap 
Payah dan Syukurlah Nara ia akhirnya hidup dan mati kembali di tempat ini.

Comments

Popular posts from this blog

Konten Ramah Orang Tua

Kipas angin yang nyaring, di luar juga sedang gerimis, ditemani ada secangkir kopi jahe. Rasanya suasana yang pas untuk menulis kembali. Setahun terakhir rasanya seperti kehidupan yang sudah dipilih sendiri, dari mulai pekerjaan dan hal yang lainnya. Memutuskan untuk bekerja di sektor yang tidak pernah dibayangkan saat masih kuliah, juga bukan hal yang masuk dalam perencanaan hidup. Lucu juga sebenarnya, saat kuliah seperti anak sains ambis pada umumnya, yang semua tertata dan tertarget dan termakan quotes motivator, sampai rasanya lupa berpijak. Ah, kenapa jadi puitis ya. Bergabung dengan berbagai organisasi, menyibukkan diri, seolah ingin mengubah dunia keesokan harinya, sekarang harus berdamai dengan realitas bahwa ada diri yang harus dihidupi sendiri, entah ini terdengar kasihan atau malah bangga. Kata orang, harga diri seorang laki-laki itu di pekerjaannya, dan wanita dengan kodratnya feminitasnya harusnya menjadi wanita seutuhnya, dengan me-_nurture_ kehidupannya. Kalau ditanya, ...

Curcol #1 Wanita dan Kerja

 "Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita. Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan".  Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah...

Curcol #2 Kopi dan Rokok

Pagi-pagi, hari minggu, ada buku, terus ada kopi, banyak pohon, duduk depan rumah, sepertinya hal yang pantas untuk diidamkan. Sebagai salah satu keturunan dayak-sulawesi yang ada kebanjar-banjarannya, meminum kopi atau teh saat pagi hari adalah hal yang lumrah. Apalagi jika ditambah dengan wadai alias kue untuk panas-panas, yang baru saja dibeli dari tukang dagang keliling di pagi hari. Sedari kecil, saya terbiasa melihat budaya orang banjar dengan sarapan "kue untuk" dan kopi atau teh di pagi hari, sembari menunggu anaknya berangkat sekolah, jika yang merokok maka akan sambil merokok, jika yang tidak ya akan dengan kue dan minumannya saja. Bahkan saya masih ingat saat itu, waktu kami memutuskan  untuk pindah ke Sulawesi dan mamah tetap dengan budaya banjarnya menyediakan sarapan beserta teh serta bekal untuk si vita kecil ini agar tidak kelaparan di sekolah. Kembali bercerita tentang rokok dan kopi, dua imboost dopamin yang tidak pernah ketinggalan zaman, bahkan pada tahun...