Skip to main content

Kelompok

 

Sedari kecil manusia diajari agar bisa memiliki hubungan yang baik antar sesama, dan terbiasa hidup berkoloni dengan orang-orang yang memiliki selera atas hal yang sama. Semakin dewasa saya malah mengerti bahwa poin ini sepertinya tidak bisa diterapkan selamanya, nyatanya memiliki pertemanan yang beragam sehingga memiliki pandangan hidup yang beragam pula lebih membantu untuk bisa bertahan hidup. Kebiasaan berkoloni sebenarnya bukan hal yang baru bagi manusia. Dari zaman prasejarah, manusia juga terbiasa hidup berkelompok dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini dilakukan agar bisa mendapatkan makanan atau merasa aman karena hidup tidak merasa sendiri. Sehingga bukan hal yang baru jika hingga saat ini manusia masih menerapkan pola hidup berkelompok hampir di semua lini.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk memiliki satu lingkaran pertemanan atau kelompok, hanya saja bisa berpotensi menjadi masalah ketika ada perasaan merasa lebih unggul, atau bahkan lebih parah menjadikan perasaan solidaritas ini sebagai sarana untuk menyerang individu atau kelompok lainnya yang berbeda. Fenomena maraknya pembentukan kelompok seperti organisasi masyarakat juga sudah menjadi hal yang biasa. Kemampuan "menjual diri" ketika terlibat dalam suatu organisasi juga sudah menjadi hal lumrah. Di satu sisi hal ini memudahkan seseorang untuk mengenali orang lain melalui organisasi yang ia ikuti. Namun dapat menjadi masalah ketika seseorang tidak lagi bisa memiliki identitas untuk dirinya sendiri karena terlalu bergantung dengan organisasi yang ia ikuti. Seperti berita-berita yang akhir ini ramai dibicarakan banyak ormas-ormas yang menempatkan dirinya setara atau bahkan lebih dari institusi resmi pemerintah. Selain karena ada "pasar" yang meminta mereka untuk tetap ada dan banyaknya orang-orang yang tertarik untuk bergabung hanya karena perasaan eksis menjadi bagian dari sesuatu.

Mengapa bisa dikatakan hanya karena perasaan eksis. Kenyataannya, banyak orang-orang yang bergabung dalam suatu organisasi hanya karena euphoria proses kaderisasi, atau jika ia loyal dalam organisasi tersebut ia tidak mempertanyakan dirinya mengapa ia loyal. Jika muncul pertanyaan mengapa harus ribet ketika kita ingin berbuat baik? Bukankah bergabung dan berbuat sesuatu yang baik secara bersama itu adalah hal yang baik pula. Hemat saya, penyederhaan cara berpikir ini akhirnya banyak melahirkan organisasi yang diisi oleh orang jujur dan baik di kalangan eksekutifnya namun akhirnya bobrok di kalangan atas. Seperti kejadian organisasi-organisasi amal yang dipercaya sebagai penyalur kebaikan malah berakhir hanya memperkaya kalangan elitnya, atau sesederhana organisasi kampus yang menadah pada dewan penasihatnya tanpa mau bersama membuat pembenahan baru, atau memperkokoh ulang dasar dibuat organisasi tersebut seperti apakah  masih relevan atau tidak dengan  yang dijalani saat ini.

Saat ini bahkan terdapat kebijakan di kampus-kampus tertentu, bahwa setiap mahasiswa wajib mengikuti paling tidak satu organisasi mahasiswa atau biasa disebut ormawa. Tertulis maupun tidak, biasanya di awal masuk mahasiswa akan bertemu banyak kakak tingkat yang menawarkan mahasiswa baru ini untuk bergabung pada organisasi tertentu, entah dalam rangka hanya untuk menambah kuantitas dalam organisasi atau memang benar memerlukan penerus dari organisasi tersebut. Sebagai seseorang yang pernah memiliki hobi bergabung dengan banyak organisasi, saya tidak memungkiri bahwa kebiasaan ini menjadi jalan saya untuk mengenal orang dari berbagai kalangan dan usia. Hanya saja, berdasarkan pengalaman pribadi ketika seseorang sudah jatuh cinta dengan organisasi yang ia ikuti, orang tersebut berpotensi taklid terhadap apapun yang organisasinya katakan, layaknya hidup di dalam bubble sendiri, dan terkadang kehilangan identitasnya sendiri. Mungkin bisa jadi woro-woro mengenai pentingnya organisasi di kalangan mahasiswa maupun khalayak umum dapat dibarengi dengan pengkaderan yang jelas dan menghilangkan self-centered berlebih, sehingga ketika mendapat gesekan atau pendapat berbeda dari luar, hal tersebut dapat dengan legowo dipandang sebagai sudut pandang yang berbeda bukan malah menjadi titik awal perang beda pendapat yang tidak sehat, dan keabsahan suatu komunitas atau organisasi dapat dipandang sebagai sesuatu yang sedemikian rupa pentingnya. Karena semakin mudah sesuatu dibentuk bukankah justru potensi hancurnya juga akan semakin mudah, dan bagi yang sampai saat ini sudah terlibat dengan banyak kelompok atau komunitas yang dianggap baik semoga bisa tetap memiliki jati diri dan tidak takut memiliki perbedaan pendapat dalam satu lingkaran tersebut, hanya karena takut tidak dianggap dalam lingkaran tersebut lagi.

Subuh di Kalteng, 27 Mei 2025.


Comments

Popular posts from this blog

Curcol #1 Wanita dan Kerja

 "Ah, rasanya berbicara tentang pekerjaan adalah hal yang paling melelahkan" ucap seorang wanita di umur 20-annya. Kata pekerjaan ditambah dengan bumbu rasa keren dan validitas bekerja dengan ruangan ber-ac. Indonesia yang diisi dengan segudang wilayah industri, seolah memudahkan seseorang untuk selalu bekerja di ruang aman ekonomi. Kebanyakan penduduk lokal hanya digunakan sebagai buruh tingkat bawah baik laki-laki maupun wanita. Realita tempat kerja ber-ac yang jarang dimengerti. Sepertinya saya kehilangan fokus, mari kembali membahas bekerja dan wanita. Sedari kecil, umumnya orang tua menginginkan agar kelak anaknya bisa menghidupi dirinya dengan cara yang tidak "menggenaskan".  Setiap tahun umur anaknya dirayakan, lalu mengamini agar kelak dapat bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang. Namun, di banyak daerah wanita seolah ditiadakan pada peran tersebut. Wanita dididik agar menjadi makhluk yang lemah lembut, tak berdaya, penurut dan tidak banyak tanya. Seolah...

Seblak

You know when you get angry, and you just want to blurt things out—whether it's just regular anger or you're completely pissed off? I always wonder why, when I’m upset about something or when I’m around my loved ones, it feels like my brain just shuts off and I can’t think clearly. Do other people experience the same thing? Maybe it's a pattern—like when you're in danger or just too comfortable with someone. Or maybe it happens when you’re low on energy, and suddenly you crave Seblak or something really sweet. I’ve been curious about this and wanted to understand it better. So, the hypothalamus plays a big role here. When you get angry at something or someone, the hypothalamus is like the boss that indirectly tells the adrenal glands to produce cortisol. But even before the hypothalamus acts, there’s an even bigger boss—the amygdala. It’s the one that kicks off the whole reaction by alerting the hypothalamus. Once cortisol gets produced by the adrenal glands, it affects...

Bebas

Belakangan lagi asyik-asyiknya membaca karyanya Okky Madhasari, entah kenapa rasanya terasa lebih mudah dicerna, entah karena saya sedang ujub merasa otak saya yang memang lagi encer atau memang mba Okky bisa dengan cantik menyusun kata-kata di buku-buku beliau. Dua buku yang saya baca judulnya “Entrok” dan “Pasung Jiwa”. Dari dua buku ini saya mengerti topik ini memiliki benang merah yaitu keberanian untuk mati maupun hidup, sepertinya melihat latar belakang beliau sebagai wartawan yang idealis dapat dimaklumi sehingga buku-buku yang ditulis tidak jauh dari keadaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat marginal yang kadang justru direndahkan oleh sesamanya. Buku “Entrok” menggambarkan Marni seorang ibu yang hidup dengan kepercayaan tradisional dan Rahayu yang hidup dengan prinsip agamisnya. Marni hidup mati-matian menghidupi dirinya bahkan walaupun sudah bersuami malah apes bertemu suami yang kerjanya hanya “jajan” dan mabuk-mabukan, lalu setelah Rahayu besar dilalah malah men...